Kata orang, Lebaran itu waktunya kembali ke fitri, kembali ke titik nol. Tapi buat aku, setiap hari bersamamu adalah kesempatan untuk jadi lebih baik.
Maaf untuk salah yang disengaja maupun tidak.
Maaf untuk ego yang kadang masih tinggi.
Terima kasih sudah jadi rumah tempatku pulang.
Selamat Lebaran, Partner-ku dalam segala hal!
Selamat Idul Fitri, Sayang.
Rasanya baru kemarin kita sama-sama menahan napas, memulai sesuatu yang baru tepat di tanggal 3 Maret lalu. Lucu ya, di saat orang lain sibuk mempersiapkan diri untuk bulan suci, kita justru sedang sibuk meyakinkan hati untuk saling memiliki. Ternyata, Ramadan tahun ini bukan cuma tentang menahan lapar dan dahaga bagiku, tapi tentang belajar menjaga titipan terindah yang Tuhan kirimkan di awal bulan puasa kemarin: Kamu.
Mengingat perjalanan kita yang dimulai di bulan penuh berkah ini, aku merasa sangat beruntung. Kamu hadir sebagai jawaban dari doa-doa yang mungkin belum sempat aku langitkan sepenuhnya. Tapi aku sadar, dalam proses kita sejauh ini, aku pasti pernah melakukan salah. Ada kata-kataku yang mungkin setajam luka, atau sikapku yang tidak sengaja membuatmu merasa sendirian.
Di hari yang fitri ini, aku ingin meminta maaf dengan setulus hati. Maaf jika aku belum bisa menjadi versi terbaik seperti yang kamu bayangkan sejak awal kita jadian. Maaf jika egoku kadang lebih besar dari rasa sabarku.
Terima kasih ya, sudah mau bertahan sejak Maret itu sampai sekarang. Terima kasih sudah memilihku untuk menjadi teman sahur, teman berbuka, dan teman hidupmu saat ini. Kamu adalah kado Lebaran terbaik yang pernah aku terima, bahkan sebelum hari raya itu tiba.
Mari kita hapus semua ganjalan di hati. Kita mulai lagi dari nol, tapi dengan rasa sayang yang berkali-kali lipat lebih besar dari saat pertama kali kita memulainya di tanggal 3 kemarin.
Semoga kita menjaga detak jantung kita agar tetap seirama, hari ini, esok, dan di Ramadan-Ramadan selanjutnya.
With all my heart,
3 Maret 2026